Soal Ndasmu Etik, GMNI: Bukti Prabowo Bukan Negarawan Hanya Pemburu Kuasa - semartaracom - Tutorial Seputar Blogging Untuk Pemula

Mobile Menu

Top Ads

Artikel Lainnya

logoblog

Soal Ndasmu Etik, GMNI: Bukti Prabowo Bukan Negarawan Hanya Pemburu Kuasa

Sunday, December 17, 2023

 

Foto: Arjuna Putra Aldino, Ketuai UMKM DPP GMNI/SemarTara.


SemarTara.com, Jakarta - Dalam video singkat yang beredar viral, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan "Ndasmu etik", di depan ribuan kadernya di dalam sebuah forum internal partai. 


“Bagaimana perasaan Mas Prabowo soal etik? Etik, etik, ndasmu etik (kepalamu etik),” ucap Prabowo dalam video tersebut.


Menanggapi hal ini, Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menilai pernyataan tersebut tak layak diucapkan oleh calon pemimpin bangsa. Karena etika adalah landasan norma dan asas untuk menjaga dan menegakkan kehormatan serta keluhuran. Hampir semua budaya masyarakat Indonesia menurut Arjuna, baik Jawa, Sunda, Batak, Melayu dll mengajarkan etika sebagai panduan hidup.


“Tanpa etika, kita akan hidup seperti hewan. Hidup tanpa etika jadi Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Bangsa kita tidak demikian, nenek moyang kita sudah mengajarkan etika,” ujar Arjuna sapaan Ketua Umum DPP GMNI itu, Minggu (17/12/2023).


Pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut “Ndasmu Etik”, adalah sebuah penghinaan dan pengabaian terhadap etika yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Apalagi menurut Arjuna, kekuasaan harus dipandu oleh etika. Kekuasaan yang tak dituntun oleh etika, maka akan berjalan sewenang-wenang dan bersifat destruktif bagi kehidupan manusia.


“Kekuasaan harus dipandu oleh etika. Kekuasaan yang tidak dipandu oleh etika membuat sistem politik kita ditentukan oleh kemenangan modal atas manusia. Ini bahaya untuk kemanusiaan,” tambah Arjuna.


Pernyataan Prabowo soal “ndasmu etik” tidak bisa dianggap remeh atau guyon belaka. Menurut Arjuna, pernyataan tersebut punya konsekuensi kultural yang membahayakan. Terutama akan terjadi demoralisasi (dekadensi moral) yaitu kemorosotan moral masyarakat akibat pelanggaran etik justru diabaikan bahkan dilegitimasi oleh pernyataan “ndasmu etik”. Apalagi Prabowo Subianto seorang tokoh yang pasti punya pengaruh di lingkungan sosial yang luas.


“Ada konsekuensi kultural dari pernyataan itu, bisa terjadi dekadensi moral. Apalagi yang menyampaikan seorang tokoh sekelas Prabowo. Tidak bisa dianggap lelucon, bisa berdampak negatif karena fenomena pelanggaran etik malah dijadikan bahan ejekan,” tutur Arjuna.


Arjuna menyayangkan seorang Prabowo yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai public figure mengeluarkan pernyataan yang menurutnya tidak pantas dimana pernyataan tersebut sebagai bentuk merendahkan nilai-nilai etis kehidupan berbangsa dan bernegara. Seharusnya Prabowo bersikap layaknya negarawan, menjunjung tinggi etiika ketimbang menabrak batas-batas etis hanya untuk memperoleh kekuasaan.


“Sangat disayangkan. Pernyataan tersebut merupakan bukti bahwa Prabowo bukanlah negarawan, namun hanya sebatas pemburu kuasa. Etika diabaikan demi memburu kekuasaan,” tutup Arjuna.(Redaksi)***