Gelar Aksi di Mapolda Sultra, GMNI Kendari Tuntut Pelaku Penembakan Nelayan di Laonti Konsel agar Segera di Proses Hukum - semartaracom - Tutorial Seputar Blogging Untuk Pemula

Mobile Menu

Top Ads

Artikel Lainnya

logoblog

Gelar Aksi di Mapolda Sultra, GMNI Kendari Tuntut Pelaku Penembakan Nelayan di Laonti Konsel agar Segera di Proses Hukum

Monday, November 27, 2023
Foto: Massa Aksi GMNI Kendari saat berada di Mapolda Sultra/SemarTara.


SemarTara.com, Kendari Sultra - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari gelar aksi Unjuk Rasa di depan Mapolda Sultra terkait penembakan yang di lakukan Polairud terhadap 4 nelayan diperairan Pulau Cempedak Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Senin (27/11/2023).


Ketua DPC GMNI Kota Kendari, Sahril menyampaikan dalam orasinya bahwa Aksi Unjuk Rasa yang digelar GMNI Kota Kendari pada tanggal 27 November 2023 merupakan salah satu bentuk kekecewaan terhadap Polairut yang telah melakukan pengamanan terhadap Nelayan di perairan cempedak hingga merenggut nyawa sebanyak 2 orang nelayan.


"Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia bertandang ke Polda Sultra sebagai bentuk kekecewaan terhadap Polairut yang melakukan proses pengamanan terhadap 4 (empat) orang nelayan sehingga mengakibatkan 2 (dua) orang meninggal dunia dan 2 (dua) lainnya kritis. Kami menduga bahwa ini adalah kelalaian oknum kepolisiaan Polairut telah yang melakukan penembakan terhadap mereka," teriak Ketua GMNI Kota Kendari itu. 


Disisi lain, Yandi selaku Kordinator Lapangan (Korlap) mengatakan bahwa dalam pengamanan nelayan tersebut, tidak dibenarkan dalam SOP untuk menembak organ tubuh, apalagi menyebabkan kematian meskipun dalilnya melakukan pembelaan diri. 


"Secara SOP proses pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisiaan walaupun kepolisiaan membela diri karena terjadi perlawanan, tidak boleh menembak organ tubuh, apalagi sampai mengakibatkan kematiaan. Harusnya yang dilakukan hanya sekedar melumpuhkan, biasanya dengan menembak kaki," ungkap Yandi. 


Dalam Pernyataan Sikapnya yang dilayangkan kepada Polda Sultra, GMNI Kota Kendari secara tegas menyampaikan sikap sebagai berikut:


1. Meminta dan Mendesak Polda Sultra untuk segera mencopot Dir Polairud Polda Sultra karna tidak mampu mengontrol anggota nya sehingga mengakibatkan 2 nelayan tewas tertembak pada saat proses pengamanan di perairan Cempedak, Kabupaten Konawe Selatan. 

2. Mendesak Dir. Propam polda sultra agar segera melakukan reformasi struktural Polda Sultra. 

3. Meminta transparansi kepada Polda Sultra terkait pelaku penembakan terhadap nelayan diperairan Cempedak Kecabatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sultra.

4. Meminta Dir Propam Polda agar memberikan sangsi pemecatan terhadap Pelaku penembakan terhadap nelayan tersebut.


Foto: Massa aksi saat ditemui oleh Perwakilan Polda Sultra/SemarTara.


Sementara itu, Kabid Propam Polda Sultra, Kombes Pol. Moch Sholeh yang menemui masa aksi mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan proses investagasi dan jika terbukti bersalah maka ia secara tegas akan melakukan tindakan pemecatan.


"Ini sebagai pembelajaran juga terhadap kasus yang terjadi 3 (tiga) hari yang lalu, dan kami akan melakukan proses cepat kalau memang terbukti semua akan melakukan pemecatan terhadap pelaku," kata Kabid Propam Polda Sultra itu.


Ia juga mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap para terduga pelaku yang telah melakukan penembakan yang mengakibatkan 2 orang nelayan meninggal dunia.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan secara intensif, dan sudah ada 9 orang saksi kami periksa, 4  orang dari Anggota Polairud, 3 dari masyarakat, dan 2 yang terduga pelaku. Dan saat ini masih kami dalami serta tekanan buat anggota lain dalam menjalankan tugas kedepannya agar lebih berhati-hati lagi," sambung Kabid Propam Polda Sultra.


Sebelum massa aksi membubarkan diri, Ketua DPC GMNI Kota Kendari menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh Kabid Propam Polda Sultra tersebut, ia secara tegas mengatakan terus mengawal kasus penembakan ini bahkan ia juga meminta kepada pihak kepolisian agar melakukan transparansi kepublik tentang siapa sebenarnya yang melakukan penembakan itu. 


"Kami akan terus mengawal kasus ini sampai selesai berdasarkan hukum yang berlaku, dan kami meminta transpransi publik secara terang-terangan bahwa siapa oknum kepolisian yang melakukan penembakan, tidak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi," tandas Sahril.


Diketahui Empat Nelayan dikabarkan tertembak peluru saat hendak melaut di perairan Desa Cempedak Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Jumat, 24 November 2023 dini hari.


Keempat nelayan tersebut yakni Macho (39), Allung alias Ilham (17), Putra (17) dan Ucok alias Juswa (23) diduga tertembak oleh personel kepolisian Polairut.


Dalam penembakan tersebut Macho meninggal dunia dengan mengalami luka tembak di dada sebelah kiri yang saat ini berada di Rumah Sakit Bhayangkara untuk diautopsi.


Disisi lain, Putra mengalami luka tembak pada bagian bokong dan mendapatkan perawatan selama 2 hari, akhirnya dinyatakan meninggal dunia di RS Bhayangkara Kendari, pada Minggu (26/11/2023) petang.


Jadi totalitas yang meninggal dunia berjumlah 2 orang. Sementara itu, korban bernama Allung, mengalami luka pada bagian paha.


Sedangkan, Ucok mengalami luka pada bagian dada kanan yang saat ini sedang mendapatkan perawatan di rumah Sakit Bhayangkara.


Sedangkan Ilham atau allung mendapatkan perawatan di Puskesmas Langara Kabupaten Konawe Kepulauan.


Kempat orang Nelayan yang duga tertembak oleh personel Polairud saat melakukan patroli tersebut, diduga kerap penangkapan ikan dengan menggunakan bom.(Redaksi)***